Subscribe Us

header ads

Terkuak, Ada Pulau Ternate di Kabupaten Alor. Ini Kisahnya


Hallo guys! Kebanyakan orang pasti berpikir, Ternate hanya ada di Maluku Utara, tepatnya di kaki Gunung Gamalama. Namun, seperti dilansir dari www.tempo.com tanggal 18 Januari 2014, menyebut, ternate juga ada Manado. Tak hanya itu, seperti dikutip dari www.seputarternate.com tanggal 1 April 2016 menyebut, Ternate juga ada di Filipina, didirikan oleh orang-orang Mardica, yakni salah satu suku Melayu yang berasal dari Pulau Ternate yang dibawa ke Spanyol, kemudian ke Filipina untuk melawan bajak laut Limahong, Tiongkok.
Namun, selain dua tempat tersebut, siapa sangka Ternate juga ada di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga kini banyak orang yang belum mengetahui secara pasti, siapa pemberi nama Pulau Ternate di Kabupaten Alor, NTT, dan kapan nama itu diberikan? Begitu pun dengan masyarakat Pulau Ternate sendiri. Sebab, masyarakat Pulau Ternate umumnya merupakkan migran dari Pulau Pura pada masa kolonial. Lantas bagaimana kisahnya?
Penulis tengah menggunakan alat transportasi laut menuju Pulau Ternate Kabupaten Alor, NTT. Alat transportasi ini umumnya digunakan masyarakat di pulau  ini.  Sumber: Dok. pribadi

Berbicara tentang Ternate, maka tidak bisa terlepas dari salah satu kerajaan Islam di Indonesia Timur, yaitu Kerajaan Ternate. Dan, salah satu penguasa kerajaan pada saat itu yang dianggap berpengaruh adalah Sultan Baabulah Datu Syah. Seperti dilansir dari http://www.wacana.co tanggal 11 Feruari 2013, pada masa kejayaannya, Kesultanan Ternate berambisi memperluas wilayah kekuasaannya dengan dalil penyebaran agama Islam. 
Sebagai pemimpin 72 negeri atau pulau, Sultan Baabullah menempatkan enam sangaji di beberapa wilayah kekuasaannya, yaitu di wilayah Jawa ada empat Sangaji: Sangaji Kidul, Sangaji Kulon, Sangaji Lor, dan Sangaji Wetan. Di Sumatra ada Sangaji Palembang. Sementara di Papua ada lima Sangaji, yaitu: Sangaji Raja Ampat di Kolano Fat, Sangaji Papua Gamsio wilayah Sorong, Sangaji Mafor di Biak, Sangaji Soaraha di Jayapura, dan Sangaji Mariekku/Merauke.

Baca juga: OPINI: MENCARI SOSOK KI HAJAR DEWANTARA NTT

Di Sulawesi ditempatkan di kerajaan Goa Makasar, kerajaan Banggai, Kerajaan Bone, Buton Raha, Gorontalo, Luwu, Minahasa, Kerajaan Sangir, dan Selayar. Kalimantan ada kerajaan Brunai, Kutai, Sabah, dan Searawak. Sedangkan di Filipina, terdapat di kerajaan Mangindano, di Zulu-Zamboango. 

Di Maluku sendiri ada Sangaji Seram, Ambon, Gebe, Maba, Pattani,Sula, dll. Bahkan sampai di Mikronesia dekat pulau Marshal kepulauan Mariana, ada Sangaji Gamrangi di Polinesia dan Malanesia. Tak terkecuali, penyebaran Islam di Nusa Tenggara oleh Kesultanan Ternate, yaitu; sangaji Solor, Sangaji Lawayong NTT, Sangaji Lamaharra, Sangaji Kore di Nusa Tenggara Barat dan Bali, Sangaji Mena, dan Sangaji Dili di wilayah Timtim. Begitu luas wilayah kekuasaa dan pengaruhnya, sehingga banyak yang menyebut bahwa kerajaan Ternate pada masa pemerintahan Sultan Baabullah adalah model negara Islam pertama di nusantara.

Berdasarkan penempatan sangaji di NTT tersebut, maka Kabupaten Alor diyakini merupakan salah satu daerah tujuan penyebaran Islam pertama di NTT, terutama oleh kesultanan Ternate. Betapa tidak, seperti dilansir lifestyle.okezone.com tanggal 12 April 2017 menyebut, Alor merupakan tempat penebaran agama Islam ketika pertama kali masuk ke Indonesia. Sejarah ini pun terbukti dari adanya sebuah Alquran kuno yang terbuat dari kulit kayu di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut. Dan, Alquran tersebut ternyata merupakan peninggalan dari Kesultanan Ternate di abad 1519 Masehi ketika Islam baru dikenalkan di Kabupaten Alor. 

Oleh karena itu, bukan tidak mungkin rombongan dari Kesultanan Ternate pada waktu itu singgah di salah satu pulau, yang kini disebut Pulau Ternate yang persis berada di Kecamamatan Alor Barat Laut kemudian memberi nama pulau itu. Kini Pulau Ternate terdiri dua desa yaitu Desa Ternate dengan ibukota Umapura dan Desa Ternate Selatan dengan Ibu Kota Biatabang. Seperti dilansir dari https://rhenndut.wordpress.com tanggal 31 Agustus 2015, masyarakat Desa Ternate terdiri dua kampung, yaitu Kampung Umapura dan sebagian masyarakat di Kampung Bogakele. 

Sementara, masyarakat Desa Ternate Selatan terdiri dari masyarakat di Kampung Biat Abang, Abangbul dan sebagian Kampung Bogakele. Masyarakat di Pulau Ternate meyakini, peninggalan Sultan Ba’abullah Datu Syah yang paling berharga di pulau itu, selain nama Pulau Ternate yaitu adanya sumur tua di Kampung Umapura. Sumur itu pun diyakini sumur tersebut dikerjakan oleh prajurit Sultan Baabullah yang sempat singgah di Pulau Ternate pada masa kejayaan yakni sekitar tahun 1570-1583. Semoga bermanfaat guys... (Refael Molina/Anggota Forum Penulis NTT).



Sumber: 
www.seputarternate.com
www.tempo.com
http://www.wacana.co


Post a Comment

0 Comments