Relasi atau hubungan manusia dengan sesama telah dilakukan telah
lama. Sejak manusia diciptakan oleh sang pencipta. Dalam pada itu, Filsuf
Aristoteles pun pernah berujar: "Makhluk sosial merupakan zoon politicon, yang berarti menusia
dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain."
Berangkat dari pemikiran Aristoteles tersebut, maka manusia dapat dikatakan
sebagai makhluk sosial sehingga harus mampu membangun relasi dengan sesama.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber Pribadi |
Namun, tak dapat dipungkiri bahwa hubungan manusia dengan sesama anak bangsa
hari-hari ini kian terancam dan jauh panggang dari api. Ini karena ada
segelintir orang yang menomorsatukan kepentingan materialistik sebagai motivasi
dalam membangun relasi. Seolah, jika ada materi dalam bentuk uang atau barang,
maka relasi dengan sesama akan berjalan dengan baik dan
mulus. Sebaliknya, jika tak ada uang dan barang, maka relasi akan tersendat dan
mandek.
Pada tataran ini, kita seakan lupa bahwa manusia tak selamanya memiliki
materi karena kehidupan manusia selalu mengalami “pasang-surut”. Di saat
“pasang”, seseorang memiliki materi berupa uang atau barang. Sebaliknya, jika
di saat “surut”, seseorang tak memiliki barang atau uang. Sehingga relasi
dengan sesama anak bangsa tidak seharusnya atas dasar kepentingan materialistik.
Padahal, seperti http://definisi.org, Minggu (16/07/2017), Kimbal
Young dan Raymond W. Mack pernah mengatakan bahwa hubungan sosial harus berjalan dinamis
menyangkut relasi antar individu, antara individu dengan kelompok, maupun
antara kelompok dengan kelompok lainnya. Lanatas, bagaimana relasi seseorang
dengan sesama anak bangsa bisa berjalan dinamis dari waktu ke waktu tanpa
kepentingan materialistik?
Baca juga: MENYOAL KEPUNAHAN BAHASA BEILEL DI ALOR
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya ingin mengajak
pembaca sekalian melihat realitas bangsa Indonesia hari-hari ini. Hemat saya,
gejolak yang hari-hari terjadi di Indonesia tidak terlepas dari adanya
kepentingan materialistik dari kelompok atau golongan tertentu. Namun,
kepentingan materialistik seakan disembunyikan dari kepentingan lainnya. Hemat
saya, jika ditelisik lebih dalam, maka puncak dari kepentingan itu semua adalah
kepentinggan materialistik. Dan, salah satu akibat yang tak banyak orang tahu
adalah terputusnya relasi seseorang dengan sesama anak bangsa lainnya. Ironis!
Padahal, kita adalah
sesama anak bangsa yang tinggal di satu istana yang bernama Indonesia. Oleh
karena itu, hubungan manusia dengan sesama khususnya sesama anak bangsa
seharusnya segera diperbaiki. Hemat saya, memperbaiki dan membangun relasi
sesama anak bangsa tidak terlepas dari semangat memahami dan mengamalkan serta
membumikan nilai-nilai pancasila. Mengapa? Sekali lagi, kita semua anak bangsa
ada di 'rumah besar' Indonesia. Oleh karena itu, hemat saya, anak-anak bangsa
yang memahami dan mengamalkan serta membumikan nilai-nilai pancasila tak akan
menjadikan kepentingan materialistik sebagai dasar dalam membangun relasi.
Baca juga: HOAX: ANTARA MEDIA DAN LITERASI MEDIA
Relasi sesama anak bangsa akan terbangun tanpa melihat kepentingan
materialistik untuk memuaskan "hasrat" kelompok suku,
agama, ras maupun golongan tertentu saja. Namun, relasi akan dibangun
dengan semangat saling menerima, tenggang rasa, menghargai, tepo seliro, gotong-royong, musyawarah-mufakat
dan lain sebagainya. Singkatnya, dengan memahami falsafah, jiwa dan ideologi
bangsa, maka niscaya relasi dengan sesama anak bangsa akan terus berjalan
mengikuti ritme perputaran waktu karena kita sadar bahwa kita adalah sesama
anak bangsa yang telah berikrar "satu" dalam keragaman yang bernaung
di bawah sayap "Bhineka Tunggal Ika" dan di atas pangkuan Ibu Pertiwi
kini dan selamanya. Salam.
(Penulis: Refael Molina)


0 Comments