Subscribe Us

header ads

Menanti Pariwisata NTT dalam MEA

Oleh: Refael Molina
                                                        Kolumnis; Warga Kota Kupang


Bila Indonesia adalah negeri yang kaya dengan beragam suku, agama, budaya, tradisi, bahasa, dan sumber daya alam, maka pada tataran provinsi, NTT adalah miniaturnya. Pernyataan ini bukanlah isapan jempol belaka, dalam beberapa tulisan mereka, sosiolog kenamaan NTT, Dr. Syarifudin Gomang dan pengacara Benediktus Bosu pun mengakui, NTT sebagai miniatur Indonesia. Ini berarti, apa yang dimiliki Indonesia, ada di NTT. Sebagai orang yang tinggal dan hidup di NTT, maka kita patut bersyukur. Namun, adalah naïf bila kita terus membanggakan kekyaan kita yang belum mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Beberapa destinasi wisata NTT. Sumber: google.com

Salah satu kekayaan dimiliki NTT adalah potensi pariwisata. Potensi pariwisata, baik alam, bahari maupun budaya hampir merata di semua kabupaten di NTT. Lihat saja, pantai Lasiana, air terjun Oenesu (Kota Kupang), pantai Nemberala, musik tradisional Sasandu (Rote), taman bawah laut, tarian Lego-lego, museum seribu moko (Alor), Taman Nasional Komodo, danau Kelimutu tiga warna, tarian ja'i (Flores), tarian pasola dan batu megalitikum (Sumba), pantai Kolbano (Timor Tengah Selatan), serta beberapa potensi wisata lainnya yang belum disebutkan.

Kita patut bersyukur, kini semua potensi pariwisata NTT sedang mendapat perhatian dari Pemprov NTT. Berita di sejumlah media massa NTT menyebut, Pemerintah Provinsi (pemprov) NTT telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) beberapa waktu lalu. Meski baru terbentuk, BPPD diharapkan dapat meningkatkan promosi pariwisata NTT kepada dunia luar, lantaran selama ini promosi pariwisata dianggap belum maksimal, sehingga belum mendatangkan wisatawan dalam jumlah banyak. 

BPPD pun kemudian diberi emban agar giat mempromosikan pariwisata kita. Kendati demikian, terbentuknya BPPD lagi-lagi mendapat sorotan publik. Publik menganggap promosi tanpa kesiapan atau ketersediaan objek wisata yang cantik (tersedia berbagai fasilitas wisata) adalah sia-sia. Pada tataran ini, Pemprov NTT seolah sedang digugat. Sebelum melakukan promosi, 'wajah' pariwisata kita patut dipercantik. Ketersediaan sarana pendukung wisata, mulai dari penginapan, kuliner, hingga keramahtamahan (hospitality) warga perlu ditunjukkan. Ini paket wisata yang tak perlu diabaikan.

Contoh Buruk

Sorotan publik terhadap pemprov yang membentuk BPPD, hemat penulis, wajar lantaran ketersediaan objek wisata di area-area penting pun belum dibenahi dengan baik. Publik beropini, promosi tanpa ketersediaan objek wisata yang cantik adalah sia-sia. Contohnya, pantai Lasiana dan air terjun Oenesu yang letaknya berada di Ibu Kota Provinsi NTT.

Akses jalan ke lokasi wisata pun belum menunjang. Pernyataan wisatawan yang biasa kita dengar adalah: "Jalan masuk pantai lasiana saja belum dibuat dengan baik, apalagi fasilitas wisata di pantai, pasti tidak mendukung, tempat duduk dan lopo untuk bersantai pun ada yang sudah rusak, bagaimana pengunjung bisa merasa nyaman". Begitu pun dengan akses jalan ke lokasi air terjun Oenesu yang dibiarkan merana bertahun-tahun. Ini adalah contoh buruk objek wisata kita.


Kedua tempat wisata ini seakan telah menjadi representasi beberapa objek wisata di tempat lain, apakah objek wisata di kabupaten lain pun bagus atau tidak. Bila objek wisata di Kota Kupang saja buruk, maka di kabupaten lain pasti dianggap lebih buruk. Oleh karena itu, hal ini patut diwaspadai. Kewaspadaan pemerintah adalah bagaimana menggelontarkan dana untuk pembangunan sarana pariwisata. Sebab, bila pariwisata bagus, maka jumlah pengunjung akan semakin meningkat.

Oleh karena itu, dengan berbagai kekurangan yang ada, tak menjadi aral untuk terus maju. Bagaimanapun BPPD telah terbentuk. Bila tugas BPPD adalah mempromosikan wisata kepada dunia luar, maka tugas mulia ini patut didukung. Lantas, bisakah potensi pariwisata NTT dijual di pasar Masayarakat Ekonomi Asean (MEA) agar dapat menyejahterakan masyarakat kita?


MEA dan Potensi Wisata


Sesungguhnya, terdapat empat hal utama kehadiran MEA tahun ini. Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Kedua, MEA dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Ketiga, MEA akan menjadikan kawasan ekonomi yang merata dengan memrioritaskan Usaha Kecil Menengah (UKM). Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global, dengan membangun sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota (www.detik.com).


Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik, karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Ini diyakini akan berdampak pada peningkatan ekspor ketimbang impor yang akan meningkatkan GDP (gross domestic product) Indonesia. Namun, di sisi lain, muncul hambatan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas (kesamaan) komoditas yang diperjual-belikan, contohnya untuk komoditas pertanian seperti karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (lihat: Santoso, 2008).

Dengan melihat risiko persaingan yang akan timbul, maka mau tidak mau, pemerintah dan masyarakat Indonesia, khususnya NTT harus mampu menyajikan produk (kekayaan) unggulan yang tak memiliki homogenitas, namun memiliki daya tawar dan daya saing tinggi di pasaran. Ini agar bisa meminimalisir persaingan dalam melakukan transaksi. Dengan tersedianya berbagai objek wisata yang telah disebutkan sebelumnya, maka diharapkan potensi-potensi tersebut segera dibenahi dan dipromosikan (dijual) dalam MEA.

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat


Kita patut bersyukur karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT pun mulai mendukung potensi wisata kita, salah satunya dengan membentuk BPPD. Kendati demikian, kita tetap menanti langkah Pemprov dalam hal ini Dinas Pariwisata agar bersama-sama dengan BPPD dan masyarakat mempromosikan potensi wisata kita dalam MEA akhir tahun ini.


Ini menjadi sumber informasi kepada para wisatawan agar dapat mengunjungi objek wisata saat MEA berlangsung. Bila kemudian kerjasama dalam mempromosikan pariwisata NTT dapat berjalan dengan baik saat MEA, maka sumber PAD akan meningkat melalui potensi pariwisata. Dengan demikian, dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat Flobamora tercinta. Semoga.*



Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Pos Kupang, Selasa 3 Novemver 2015. Anda bisa membaca di sini: http://kupang.tribunnews.com/2015/11/03/menanti-pariwisata-ntt-dalam-mea?page=2.





Post a Comment

0 Comments