Subscribe Us

header ads

Melawan Lupa, Adam Ata, Anak Nelayan yang Turut Memoles ‘Wajah’ Alor

Jika kita bertanya, siapa Adam Ata? Mungkin banyak orang yang belum tahu bahkan tak tahu siapa sosok Adam Ata. Mungkin banyak yang bertanya untuk apa mengetahui sosok yang telah wafat pada 18 Agustus 1994 silam itu? Tulisan ini hadir sekedar utuk melawan lupa atas sejumlah fakta dan karya monumental tak terbantahkan, yang pernah dilakukannya. 
Adam Ata (Ketua DPRD Alor periode 1977-1982). Sumber: Hans Itta, dalam Buku: 50 Tahun Kabupaten Alor.   


Sejauh ini belum ada tulisan atau literature sejarah yang belum menggambarkan secara lengkap kisah, kiprah dan karya Pria kelahiran Bogakele-Pulau Ternate 21 Juli 1931 itu. 

Terakhir, kisahnya baru ditulis penulis buku dari Flores, Hans Ita. Namun, itu pun belum lengkap, jika memakai ukuran ‘tulisan biografi, karena jika tulisan biografi dihadirkan, maka akan mengangkat atau bahkan mengkaji semua perjalanan yang dilakukan putra dari pasangan Lambertus Ata - Hagar Ata itu mulai dari masa kecil, perjalanan pendidikan dan karir serta semangatnya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat, terutama masyarakat Kabupaten Alor.


Dalam buku: 50 Tahun Kabupaten Alor, Hans Ita menggambarkan Alm. Adam, Ata Hoding, Wakil Raja Alor Bala Nampira. Wilayah kekuasaannya meliputi; Ternate dan kampung Reta di pulau Pura. Wilayah itu masuk wilayah Swapraja Alor. 

“Barangkali orang yang paling berbahagia ketika itu adalah Lambertus Ata Hoding, seorang nelayan di Ternate. Betapa tidak? Tahun 1951, Adam Ata puteranya berhasil mengggondol ijazah Noormalschool, Kupang” tulis Hans Ita. 

Tak hanya itu, masih dalam tulisannya, menyebut, minimnya tenaga pendidik di Alor membuat Adam pulang ke Alor dan menjadi guru sekolah rakyat. Menariknya, kurang lebih 26 tahun, siapa sangka awal perjalanan karier Adam Ata membuat anak nelayan itu kemudian menjadi ketua DPRD Alor (1977-1982). 

Adam dikenal sosok pemimpin yang tegas dan tak kenal kompromi dengan hal-hal prinsip kebenaran dan keadilan. 


Pada suatu ketika, ada rapat para Ketua DPRD Kabupaten se-NTT di Kupang. Adam Ata walk out dari ruang sidang. Dan langsung kembali ke Alor. Adam adalah sosok pemimpin yang tanggap dan cepat dalam bertindak. Kalau ada masalah yang disampaikan oleh masyarakat ke dewan, misalnya, ia langsung turun ke lapangan dan menyelesaikannya. 

Hasilnya baru akan dilaporkan kepada Bupati. Di luar jam dinas kantor ia tak langsung pulang ke rumah, tetapi dengan sopir pribadinya Soleman Lumba, sering menghabiskan waktu dengan masyarakat desa di kampung-kampung hingga larut malam. Kala kembali ke Kota, mobil dinasnya sarat dengan orang-orang desa. Mereka (orang desa) tak hanya diberi tumpangan tapi juga sedikit uang ketika turun dari mobil. 

"Itulah salah satu sifat bapak yang meski sudah menjadi pejabat tapi tidak pernah lupa akan masa lalunya sebagai anak nelayan," kata Yacobus Hermanus Ata, anak Adam yang sering ikut ayahnya ke desa. Ini adalah sepenggal tulisan dari apa yang telah dilakukan Alm. Adam Ata. 

Salah satu yang belum ditulis adalah visinya tentang kehidupan masa depan bagi anak cucunya di Pulau Ternate.  Betapa tidak,  jika hari ini anda berkunjung ke Kecamatan Alor Barat Laut, anda akan menemui kampung bernama Hula. Hula atau Lat masuk dalam wilayah Desa Alor Besar, bersebelahan antara Desa Baolang dan Kampung Sebanjar. 

Konon, berkat perjuangannya, Alm. Adam Ata bersama eksekutif Alor kala itu mampu membebaskan beberapa lahan bagi masyarakat Ternate untuk bertani dan bercocok tanam karena Ternate merupakan salah satu pulau gersang, sehingga Hula dan sekitarnya mejadi alternatif bagi masyarakat Ternate untuk  mengais kehidupan melalui lahan pertanian kala itu. 

Hingga kini pun masyarakat Ternate yang berasal dari Retta, Pulau Pura masih menjadikan lahan pertanian untuk mengais kehidupan, selain bidang Perikanan. 

Rupanya, Alm. Adam Ata telah berpikir jauh tentang masa depan ‘anak-cucunya’ kelak. 

Apa yang dilakukan Alm. Adam Ata membuat kita mengingat kata-kata mutiara:  “Jangan wariskan air mata, tetapi mata air bagi anak cucu.” 

Akhirnya, walaupun belum banyak yang dilakukan Alm. Adam Ata, namun dari apa yang dituturkan dan ditulis, tidak berlebihan jika Alm. Adam Ata pernah 'memoles' wajah Alor dalam kiprahnya masa lalu. Kiranya, semangat Alm. Adam Ata terus dikenang dalam kata dan tindakan anak cucunya di Negeri Seribu Moko

NB: Kisah Adam Ata, selengkapnya diulas oleh Penulis NTT, Hans Itta, dalam Buku: 50 Tahun Kabupaten Alor.


Post a Comment

0 Comments