Subscribe Us

header ads

Ironi “Politik Medsos”

Blak-blakan bicara politik sana-sini. Yang diam diinjak, dikira tak mengerti. Medsos lagi-lagi 'diperalat'. Saling bully, kritik dan hujat. Tak sedikit yang murah berujar iri dan dengki. Kaum yang menamakan diri tim sukses dan sukarelawan jadi tameng. Tak sedikit harus menikmati ratusan malam di jeruji besi lantaran idealisme. Suku, Agama, Ras dan Golongan jadi isu sexy melawan kekalahan. Belum lagi keterlibatan keluarga. Kakak-adik beda pilihan lantaran hubungan emosional versus idealisme. Yang satu dukung paket A, yang lain dukung paket B dan C.
Sarapan pagi yang biasa dihiasi kopi dan singkong goreng tak kunjung tersedia lantaran ruang pertemuan itu 'dikorupsi' perbedaan pilihan. Saya jadi heran, kenapa hari-hari ini seruput kopinya di dunia maya. Di dunia nyata, merk kopinya juga tak terlihat lagi. Ah sepertinya, di NTT juga lagi ramai. Hemat saya, ini ironi politik, karena politik cenderung diobok-obok di Medsos. Kini, yang punya smartphone, bisa jadi 'wartawan' di medsos, tanpa harus lalui 'kaidah' jurnalistik. Sebar info sana-sini 'semau gue'.
                                                                     Ilustrasi

Staf Ahli Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) Bidang Hukum, Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto, S.H., M.Si saat memberi kuliah Umum di Undana belum lama ini, menyebut: “Anak-anak sekarang mau pacaran, berkelahi, nge-bully, cari kerja dan lainnya semua di dunia maya.” Meski demikian, keuntungan dari kemajuan teknlogi ini juga dikhawatirkan akan menyisahkan dampak buruk, yakni terjadi liberalism. Menurutnya, jika orang hendak memilih yang baik, maka di sana (Medsos) juga ada Injil, Al-Quran, Weda dan beberapa nasihat bijak dari para tokoh, namun jika orang lebih memilih hal-hal negatif, maka dia akan menyebar hoax, mem-bully, fitnah dan menyebar ujaran kebencian.
Saya lalu jadi heran, begitu mudahnya, kita ‘diperbudak’ medsos, terutama buatan Mark Susenberg itu. Yang rajin menghabiskan paket data di Medsos dianggap melek politik. Ah. yang benar saja. Yang diam dianggap tak mengerti. Padahal, isi dari postingan yang berapi-api itu hanya sebatas 'tong kosong nyaring bunyinya' saja. Jangan salah, semua orang bisa melakukan praktik politik. Manusia adalah Makhluk Politik (Human Politica), seperti yang dikatakan Aristoteles. Olehnya, manusia tidak bisa lepas dari hal yang berbau politik. Sampai disini Aristoteles menganggap politik adalah suatu sistem yang membuat manusia saling berinteraksi dalam menghasilkan keputusan-keputusan yang sifatnya mengikat bagi komunitas masyarakat tersebut. Saya jadi tergugah dengan hingar bingar politik hari ini.
Visi, misi dan program strategis sepertinya hal biasa karena bagi saya, itu bisa jadi 'pembakar' janji yang nanti sulit terwujud. Komitmen dan ketulusan demi sebuah perubahan tentu sangat dibutuhkan. Patut diingat, apapun yang dilakukan demi mencapai kekuasan, Abraham Lincoln pernah berujar : Pemerintahan demokratis itu, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” Kita semua bersaudara, jika politik itu dipraktikan denga cara santun dan berwibawa tanpa menunjukan cara berpikir 'kamomos' dengan otak 'dadolek', maka niscaya kesejahteraan dan kedamaian akan kita rajut pada masa mendatang, tanpa perseteruan. Salam

Post a Comment

0 Comments