Dunia Pendidikan
Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) patut berbangga atas perubahan-perubahan yang terjadi pada
dunia Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di NTT. Betapa tidak, salah satu mimpi dunia PTS
di NTT agar memiliki Koordinasi
Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) sendiri akhirnya terwujud. Kopertis NTT ini disebut Kopertis Wilayah XV yang merupakan pemekaran dari Kopertis Wilayah Bali Nusra.
Baca juga: Menakar Konspirasi Jahil Ujian Nasional
Hal ini dikatakan Anggota DPD RI asal NTT,
Ir. Abraham Paul Liyanto saat menghubungi POS- KUPANG.COM, Selasa (24/4/2018), Seperti
dilansir dari http://kupang.tribunnews.com,
Rabu (25/4/2018).
"Saya pada saat di Komite 3 DPD RI dan
pada waktu itu sebagai wakil ketua, saya beberapa kali bertemu dengan Menteri
Riset Dikti dan terakhir menunggu Menteri PAN RB untuk pengaturan SDM. NTT ini
sebenarnya sumber daya manusia tinggi dan pintar tapi kurang sarana sehingga
SDM tertinggal," katanya.
Dia mengatakan, kopertis terakhir adalah
wilayah Papua dan sebelumnya Aceh dan Maluku sebenarnya sama dengan NTT dengan
tiga kopertis ini tapi tertinggal karena masih ada syarat yakni gedung dan SDM.
![]() |
| Ir. Abraham Paul Liyanto. Sumber: http://kupang.tribunnews.com |
"Sehingga saya sebagai DPD berusaha
memfasilitasi dengan pemda, gubernur dan semua stakeholder termasuk asosiasi
perguruan tinggi yang diketuai Romo Gregorius juga dari asosiasi perguruan
tinggi, mendapat semua data lengkap dan coba fasilitas dan hasil sudah ada.
Sudah ada SK tentang pembentukan lembaga layanan pendidikan tinggi (L2Dikti)
dan termasuk NTT yang pertama memiliki L2Dikti. Dengan menjadi L2Dikti maka universitas negeri juga masuk dalam kontrol lembaga
ini," katanya.
Baca juga: ANDA MAHASISWA UNDANA? MAU BELAJAR MENULIS, GABUNG DI KOMUNITAS INI
Baca juga: ANDA MAHASISWA UNDANA? MAU BELAJAR MENULIS, GABUNG DI KOMUNITAS INI
NTT, jelas Paul, siap untuk berdiri pisah
dari kopertis VIII sehingga perguruan tinggi di NTT bisa diawasi dan diatur dan
tidak ada kasus seperti Stikes Nusantara, Universitas PGRI yang berkepanjangan
dan kasus lain karena lemahnya pengawasan dan pembinaan. Dengan adanya lembaga
ini diharapkan NTT bisa lebih baik.
Sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi (Menristek dan Dikti) M Nasir menjelaskan, pemekaran Kopertis didasarkan
pada pertimbangan geografis dan jangkauan area, terutama di wilayah Indonesia
Timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Kalimantan.
"Targetnya
2017 ada empat Kopertis baru hasil pemekaran. Tapi Januari paling tidak harus
sudah ada satu yang muncul," ujarnya pada dialog Mencari Solusi
Permasalahan PTS di Mataram, Nusa Tenggara Barat, seperti dilansir dari http://www.mediaindonesia.com, Senin(20/6/2016),
lalu.
Ia
mengatakan, kemungkinan pemekaran pertama akan dilakukan di wilayah Kupang yang
mencakup Flores dan Sumba. Meski tidak luas, menurut dia, jangkauan tiap-tiap
area masih sulit karena hanya bisa dilalui lewat akses laut dan udara.
Ditambah
lagi, ungkap Nasir, Kopertis di wilayah itu cukup kewalahan menangani berbagai
persoalan yang sering terjadi pada PTS."Kita harapkan Kopertis yang baru
nantinya bisa melakukan tugas untuk mengatasi masalah perguruan tinggi di
wilayah masing-masing," cetusnya.


0 Comments