Dari: Refael Molina
Pak Basuki, hari ini kubersedih dan berduka. Mungkin bukan hanya aku, tapi jutaan pasang mata yang menyaksikan hitungan quickqount ini. Tapi, aku bangga, Jakarta hari-hari ini dilihat, bagiku, itu karena kamu.
Pak Basuki, ini bukan akhir, melainkan bagian dari jutaan proses yang bakal dilalui olehmu. Meski banyak yang takut kekalahan ini adalah akhir dari riwayat politikmu. Ini pilihanmu. Jalan masih panjang.
Pak Basuki, aku bukanlah rakyat Jakarta yang bisa saja memilihmu atau pasangan lain. Tapi, kurindu taman kota yang indah, sungai yang bersih, hingga tempat prostitusi hasil polesan tanganmu menjadi akses olah raga masyarakat umum.
Aku juga rindu tak ada lagi banjir dan teriakan macet di jalan umum. Rinduku pun kian menggebu mendengar teriakmu menentang para maling dan bandit di sudut meja berlaci. Pak Basuki, kata orang kamu galak. Itu kurangmu. Namun, bagiku mereka juga tak sempurna, hanya karena mereka tak ingin jalan bengkok mereka dibatasi dan dikekang.
Pak Basuki, bukan hanya aku, tapi semua yang mencintaimu merasa lega dan bangga. Mengapa? Karena, kamu telah mewarnai hitamnya demokrasi dengan putih dan merah baju kotak-kotakmu. Jujur, tegas, terbuka, bersih, profesional dan adil bagi rakyat, itu teladanmu.
Pak Basuki, tak hanya dalam politik teladanmu berlaku. Dalam keseharianku pun teladan dan semangatmu telah menginspirasi jiwaku dan banyak masyarakat Indonesia.
Pak Basuki, tak hanya aku, banyak yang masih menggarapkanmu. Entah di DKI Jakarta atau di manapun juga, Indonesia masih mengharapkanmu. Mencari orang sepertimu rasanya gampang-gampang susah.
Aku tak ingin berbohong, mungkin warna kulitmu putih sedangkan aku hitam. Kita memang beragam, tapi di Bumi Pertiwi, kita tak seharusnya jadi seragam. Kecuali bila kita mampu bertoleransi dan saling menerima satu sama lain.
Pak Basuki, sebentar lagi kamu bakal tinggalkan bangku pemerintahan Jakarta. Hanya satu pintaku, Jangan tinggalkan Indonesia. Bila Jakarta adalah rumahmu, maka Indonesiapun rumahmu juga, rumah kita.
Pak Basuki, tetaplah legowo, tegar dan kuat. "Kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ambil," itu katamu. Karyamu mungkin tak untuk Jakarta lagi, tetapi karya-karyamu akan selalu di kenang di Kota Metropolitan itu. Dan,karyamu juga mungkin akan terus dinanti semua masyarakat Indonesia suatu saat nanti. Tetaplah berkarya Pak Basuki, kami terus menantimu. Indonesia masih menantimu.
Pak Basuki, ayo kembalilah....!!!
Kupang, NTT, 19 April 2017

0 Comments