Oleh Refael
Molina
Anggota Forum
Penulis NTT
SUDAH menjadi rahasia
umum bahwa mahasiswa sering di kaitkan dengan idealisme. Ini
seiring dengan keyakinan, pandangan maupun cita-cita
yang dimiliki mahasiswa, sehingga
terminologi idealisme mahasiswa selalu kita dengar di telinga kita. Dengan
dimilikinya idealisme, maka biasanya mahasiswa selalu ikut mengambil bagian
dalam proses pengaktualisasian serta pembangunan dirinya mupun pembangunan bagi
bangsa.
Terutama tentang kebijakan maupun hal-hal yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat, maka mahasiswa dituntut untuk hadir dalam menegakkan
idealismenya. Jika tidak, maka mahasiswa
dianggap hanyalah menjadi penonton dalam membuat sejarah perjalanan dirinya
maupun bagi bangsanya. Salah satu faktanya adalah pada masa orde baru, tanggal
21 Mei 1998, ketika mahasisawa tampil dengan semangat idealismenya yang gigih
akhirnya berhasil meruntuhkan rezim Soeharto dari kepemimpinannya yang diktator.
Luar biasa!
Outo Krtitik
Begitupun dengan pada masa sekarang (reformasi-red), mahasiswa
tetap diandalkan dan dituntut agar selalu mengawal perjalanan dan permasalahan
bangsa. Jika tidak, maka idealisme
mahasiswa yang di sandang hanyalah sebagai terminologi kosong belaka. Penulis
tidak ingin mengklaim diri paling benar atas realitas mahasiswa dewasa ini.
Karena penulis sendiri pernah menjadi
mahasiswa. Berikut ini sesungguhnya bukan merupakan kritik melainkan outo kritik
yang ingin mengingatkan penulis maupun rekan-rekan penulis (mahasiswa-red) di
era ini. Sebab pada saat ini, mahasiswa telah terjerumus dalam deviasi
(penyimpanganr-ed) atas idealismenya.
Lihat saja,
mahasiswa telah turut terlibat dalam praktik politik partai bahkan sebagian
mahasiswa dengan terang-terangan ikut bermain politik (menjadi anggota
parpol-red). Padahal, dalam politik dibutuhkan orang-orang yang punya kapasitas maupun
kapabilitas yang mumpuni. Apalagi, hal tersebut harus
melalui proses yang panjang (pengkaderan dalam kubu partai-red). Bukan
sebaliknya menghasilkan kader karbitan, yakni mereka yang
muncul pada saat pilkada atau tidak melalui pengkaderan sesuai mekanisme
tertentu dalam partai.
Penyalahgunaan peran sebagai kaum intelek dan agent of change
(agen perubahan-red) yang idealis pun belakangan ini kian
nyata dan tak terbendung. Kita coba bertanya, apakah ada kepentingan para elit menunggangi peran mulia mahasiswa? Atau ada kepentingan murni mahasiswa yang beridealis melihat persoalan
masyarakat kemudian meresponnya dalam aksi-aksi? Penulis
pun sulit menjawab. Mengapa? Karena sejujurnya penulis sendiri pun sejauh ini
belum bahkan tidak terlibat dalam politik praktis apalagi menjadi anggota
parpol, jadi (mungkin) para mahasiswa yang
bisa menjawabnya untuk kita.
Sebaliknya,
jika mahasiswa menegakkan idealismenya, mereka biasanya senang untuk menjadi oposisi
yang melawan kebijakkan atau kegagalan pemerintah dalam menjalankan
pemerintahan. Sebenarnya, hal itu tak salah, namun bila keikutsertaan mahasiswa karena hanya ingin berhura-hura, maka sangat disayangkan. Apalagi
mahasiswa kemudian melakukan aksi-aksi
brutal di jalan-jalan maupun ditempat-tempat umum hingga membuat nama mereka
tersohor dan melambung. Padahal, peran mulia mahasiswa harus diaplikasikan secara riil-konkrit yang berimbas pada kemajuan diri sendiri atau
kemajuan civil society. Bila ditilik lebih jauh, maka sebenarnya idealisme
yang sesungguhnya harus di letakkan di tempat yang
tepat, termasuk membuat tulisan-tulisan kritis namun solitif, mengingat peran mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan), kontrol
sosial dan iron stock (generasi masa
depan bangsa). Namun, apa yang
dilakukan mahasiswa saat ini, hemat saya belum menunjukkan peran mulia mereka.
Tulisan ini ingin mengajak rekan-rekan mahasiswa secara khusus mahasiswa
calon guru yang sedang menjalani studi, baik itu dari
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),
Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STIKIP) maupun dari
Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) dan lainnya agar dapat melihat
lebih jauh isu-isu yang tepat dalam dunia pendidikan dan menanggapinya melalui tulisan di media
massa, karena hemat penulis media massa merupakan salah satu tempat untuk menegakan idealisme
mahasiswa.
Isu-isu Sosial
Ada begitu banyak isu-isu sosial, baik lokal
maupun nasional yang bisa dijadikan masalah atau referensi untuk memulai
menulis. Sebut saja, kasus korupsi E-KTP, Pilkada Jakarta, kemiskinan, human
trafficking, narkoba, pengangguran dan masalah lainnya. Bila menulis karya
popular ilmiah saja mahasiswa sulit, maka tiadak menutup kemungkinan mahasiswa
akan mengalami kesulitan saat membuat proposal atau skripsi. Tidak berlebihan,
bila membuat tulisan sederhana dan sekadar mengirim ke media massa saja sulit,
maka potensi copy paste atau plagiasi cenderung akan menjadi jalan trakir, bahkan
mahasiswa menjadi langganan jasa pembuat proposal dan skripsi. Menulis bagi
mahasiswa FKIP memiliki keunggulan lain, karena ketika diwisuda dan menjadi
guru, maka salah satu tuntutan guru masa kini dan datang adalah menulis, bila
ingin pangkat dan golongannya dinaikan atau mendapat tunjangan. Tulisan saya
yang pernah dimuat di media Warta Guru NTT edisi Juli 2013 berjudul ‘Saatnya
Guru Menulis : Menuju Pengembangan Profesionalisme Guru’ didalamnya
jelas memuat aturan yang mengharuskan agar guru harus menulis (Baca: Permen
84 tahun 1993 dan Peraturan
Menteri PAN & RB No. 53 Tahun 2010 yang mulai berlaku efektif 2013). Pada tataran ini, mahasiswa FKIP harus bisa
menegakkan idealismenya untuk menulis, sehingga ketika menjadi guru maka sudah bisa menulis.
Mengapa? Karena,
pada kenyataannya para guru kesulitan dalam hal menulis. Bahkan,
banyak tulisan opini di berbagai media masa belakangan justru
santer menyoroti ketidakmampuan guru dalam menulis. Hemat penulis, salah satu
penyebab ketidakmampuan guru dalam menulis, karena salah satunya adalah para guru salah dalam menegakkan idealisme sewaktu menjadi mahasiswa. Idealisme mahasiswa yang dimiliki pada saat itu,
tidak dipergunakan sebaik baiknya dalam hal menulis. Meskipun harus di akui bahwa tugas akhir mahasiswa adalah menulis
skripsi ataupun tesis. Namun, pertanyaan kita adalah mengapa para guru yang
telah melewati hal tersebut tetapi sulit menulis artikel, modul papar maupun
diktat? Penulis sangat yakin bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah pada para
guru masih menjalani studi di perguruan tinggi, idealisme hakiki kemahasiswaan
mereka tidak digunakan untuk melihat isu-isu sosial maupun pendidikan kemudian menanggapinya lewat tulisan.
Coba lihat, mahasiswa lebih
senang memainkan perannya untuk berkoar-koar dan beretorika dalam aksi
demonstrasi belaka. Ini jugalah yang hemat saya disebut sebagai “idealisme
hura-hura”. Pada titik ini para mahasiswa pun harus mampu memikirkan apa
yang dipikirkan oleh Minke dalam novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer (1975: 135)“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan.
Duniaku bumi, manusia dan persoalannya”. Kita tentu tidak ingin mahasiswa (calon guru)
kedepan yang cenderung hanya memikirkan jabatan, profesi, pangkat, gaji dan
atau karena tujuan yang remeh-remeh, ketimbang mahasiswa yang memliki tujuan
luhur demi persoalan kemanusiaan yang ingin dipecahkannya dimasa datang.
Pesan
Terlepas daripada itu, melalui tulisan ini, penulis juga hendak
berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa yang berada di bawah naungan Lembaga
Penyedia Tenaga Keguruan (LPTK) di berbagai sekolah tinggi maupun
universitas agar dapat melihat situasi ini
dan segera mencari jalan keluarnya. Mahasiswa harus jeli memainkan perannya, menegakkan
idealismenya. Tidak saja dengan kemampuan ‘berkoar-koar’ dan beretorika menggunakan
ide-ide briliannya di jalanan, namun alangkah
bijak dan bermakna, jika mahasiswa mampu
menuangkannya ide-ide briliannya dalam bentuk tulisan sekaligus sebagai salah
satu wujud antisipasi dalam upaya menghindari kesulitan saat menulis proposal atau skripsi.
Harus
diakui bahwa apapun yang kita lakukan akan terasa mudah jika kita sudah
terbiasa (ingat allah bisa karena biasa), sebaliknya jika kita tidak terbiasa
maka apa yang kita lakukan akan sangat terasa sulit. Begitupun dengan menulis,
jika saat kita tidak ingin memulai kebiasaan untuk menulis, maka saya yakin
nasip mahasiswa yang notabene
adalah calon guru masa depan akan sama dengan nasip para guru sekarang yang
kebanyakan tidak mampu menulis artikel popular, artikel ilmiah, makalah dan lainya. Oleh karena itu, sebagai kaum
intelek yang
beridealisme, maka kita menanti peran-peran mulia tersebut dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, dalam
hal menulis. Semoga*

0 Comments