Oleh: Refael Molina*)
SUDAH
menjadi rahasia umum di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT), khsusnya di Kota Kupang, bila
ada momentum wisuda, para wisudawan atau keluarga mengggelar pesta wisuda, baik
di
rumah, asrama maupun
kos-kosan tempat menginap wisudawan
sewaktu
kuliah. Pesta wisuda
umumnya dilakukan sebagai tanda syukur atas keberhasilan yang telah diraih para
wisudawan. Kita semua tau, yang disebut pesta berarti membutuhkan perencanaan kegiatan,
besaran biaya hingga pelaksanaan kegiatan pesta.
Baca Juga: Menanti Idealisme Mahasiswa dalam Menulis
Baca Juga: Menanti Idealisme Mahasiswa dalam Menulis
Pengalaman empiris di Kota
Kupang menunjukan, pesta wisuda tak jarang mengundang perhatian khalayak,
apalagi pesta tersebut mengundang sejumlah keluarga besar, teman atau sahabat. Ibadat
syukur yang dilakukan seakan hanya sebagai kamuflase untuk
menutupi pesta pora dibalik syukuran wisuda. Dentuman musik pun biasanya tak terbendung, hingga pesta
miras kemudian memicu adanya konflik. Ini yang sesungguhnya
telah lama terjadi hingga saat ini.Betapa
tidak, beberapa media cetak dan online di Kota Kupang sejak, Jumat (8/10)
menurunkan berita soal kerusuhan yang dilakukan sekelompok mahasiswa di pesta
wisuda salah seorang mahasiswa di RT 13, RW 03 Kelurahan Lasiana. Akibatnya,
seorang mahasiswa asal Desa Sandosi, Kecamatan
Witihaman, Kabupaten Flores Timur, Xaverianus Lawan Geroda (21) alias
Heri Lamawuran tewas di tempat.
Sedangkan rekan korban, Adrianus Kia Beda (20) yang juga berstatus
mahasiswa Universitas Widya Mandira Kupang sekarat. Akibat
lainnya, sembilan motor milik penghuni kos dibakar.Pada titik ini,
hemat penulis, ini bukan masalah suku, namun persoalan individu para mahasiswa
yang terjebak dan terlena dalam ritual budaya hingga lupa mengontrol diri
dengan benar. Bila kemudian hal ini dilakukan mahasiswa, maka mahasiswa yang
biasa disebut kaum intelek, guardian of value
(penganut nilai-nilai kebajikan) agent of
change (agen perubahan), moral force
(kekuatan moral yang baik), kontrol sosial dan iron stock (generasi penerus bangsa) patut dipertanyakan.
Baca Juga: Kebiasaan Buruk Mahasiswa Rantau di Kupang Bikin Ngakak
Baca Juga: Kebiasaan Buruk Mahasiswa Rantau di Kupang Bikin Ngakak
Fungsi
dan peran mulia mahasiswa tersebut patut dijalankan dalam keseharian, baik di
dalam maupun di luar kampus. Namun, tindakan mahasiswa hari-hari ini sangat
bertolak belakang dengan apa yang disandangnya. Pendidikan karakter yang selama
ini dipelajari mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT)
sekejap hilang, begitupun dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan melalui
pendidikan agama.
Pada titik ini,
perilaku mahasiswa patut digugat. Mengapa? Saya melihat, di luar kampus,
mahasiswa telah menyimpang dari cara-cara sesungguhnya untuk mengaktualisasikan
diri dan menunjukan jati diri. Hemat saya, pesta
wisuda yang didalamnya bebas dengankonsumsi miras hingga
mengakibatkan aksi brutal hingga menelan korban jiwa, bukan
cara mengaktualisasikan diri dan mecari jati diri yang benar. Pada titik ini, penulis melihat tempat pesta
telah diubah menjadi tempat mengaktualisasikan diri para mahasiswa di luar
kampus.
Lantas, apakah kebahagiaan sejati harus dirayakan melalui sebuah
ritual pesta? Tentu semua orang ingin mengekspresikan
kebahagiaan melalui moment-moment penting. Namun, bukan berarti harus
melakukannya dengan berpesta pora nan
ria hingga lupa diri, kemudian berakhir menelan korban jiwa.
Coba lihat, para
wisudawan di kampus-kampus ternama di Indonesia, semisal Universitas Negeri
Jogjakarta, Univeritas Padjajaran, Institut Teknologi (ITB) Bandung bahkan
Universitas Indonesia. Wisudawan kampus-kampus ini justru menganggap wisuda
sebagai moment biasa.
Baca Juga: Debat Pilgub NTT, Kelor jadi Viral, Mengapa Harus Malu?
Baca Juga: Debat Pilgub NTT, Kelor jadi Viral, Mengapa Harus Malu?
Justru
yang
terpenting adalah, mahasiswa sudah mengikuti ujian skripsi, thesis dan
desertasi serta memperoleh nilai. Sesungguhnya itulah momentum kebahagiaan
tersebut. Sampai-sampai saat
wisuda, kita tidak mendengar dentuman musik-musik atau tenda-tenda berdiri
tanda diadakan pesta wisuda. Wisuda justru dianggap sebagai awal kehidupan
dimulai. Penulis tak
bermaksud melarang para wisudwan melakukan syukuran dan mengekspresikan
kebahagiaan mereka. Namun, bila syukuran wisuda dilakukan “berbau pesta”, maka sesungguhnya “kran” minuman keras akan
dibuka dan tidak menutup kemungkinan akan berakhir konflik hingga menelan
korban jiwa, seperti yang terjadi baru-baru ini. Bila demikian, maka hemat saya,
budaya pesta wisuda di Kota Kupang bahkan di NTT harus dihentikan.
Peran Kita
Kita tak bisa pungkiri, fenomena pesta
wisuda telah berakhir pilu dan duka mendalam. Kita semua punya peran, baik
sebagai pemerintah, tokoh agama, masyarakat dan pemuda dalam meminimalisir
terjadinya tragedi serupa yang (mungkin saja) akan terjadi lagi. Pada tataran
ini, penulis melihat, Kelurahan Oesapa, Lasiana dan Penfui, yang selama ini
dikenal sebagai basis kaum intelek, belum mendapat sentuhan dari pemerintah,
mulai dari bangunan-bangunan kos dan asrama hingga pola hidup “masyarakat
intelektual” di sana. Hemat saya, pemerintah belum peka melihat ketiga wilayah
tersebut sebagai basis kaum intelek.
Ketersediaan pusat-pusat perbelanjaan,
seperti pasar, toko dan kios-kios saja belum cukup. Ketersediaan pusat
aktivitas pelajar, seperti pusat olah raga, taman baca (perpusatakaan), warung
internet gratis hingga warung kopi harus disediakan agar menjadi tepat
mahasiswa menyalurkan hobi, minat dan bakat untuk mengaktualisasikan diri dan
membangun budaya ilmiah mahasiswa di luar kampus. Tak hanya itu, setiap
kos-kosan dan asrama Pemda yang ada di tiga kelurahan itu harus ditertibkan
oleh pemerintah mulai dari RT, RW, lurah hingga walikota dan bupati, karena
kita tak ingin, ada penghuni setiap asrama yang merupakan cikal-bakal Amrozi
cs, dan ISIS.
Pesan
Kita semua pasti setuju dengan upaya yang
dilakukan, baik pemerintah maupun tokoh agama, masyarakat dan pemuda, namun
semuanya akan berpulang pada pribadi mahasiswa masing-masing. Apakah ia mau
berhenti atau tidak? Karena itu, penulis
ingin menyampaikan pesan, hendaknya setiap tindak-tanduk mahasiswa senantiasa
mencerminkan jiwa kemahsiswaan yang terpelajar dan intelek bukan sikap
premanisme yang membanggakan melainkan kesantunan dan kebaikan moral. Mahasiswa
yang terpelajar dan intelek hendaknya tidak menganut paham tangan ganti tangan
atau mata ganti mata melainkan dia adalah pemuda yang kritis dalam menggunakan
segala potensi diri dan pengetahuannya demi kepentingan masyarakat umum dan
kebaikan bersama, dan kaum intelek yang senantiasa menggunakan nalarnya dalam
mengkritisi berbagai fenomena di negerinya.
Pada tataran ini, saya
teringat dengan pernyataan Albert Einstein yang mengatakah bahwa kualitas
seseorang dilihat dari apa yang bisa ia berikan, bukan apa yang ia dapatkan. Sungguh telah tersedia banyak sekali media
untuk menyalurkan aspirasi dan hobby, jangan sampai segudang predikat mulia
mahasiswa yang di emban yakni sebagai guardian or value, agent of
change, iron stock dan kontrol social bahkan sebagai pemuda yang kritis den intelek hanyalah
sebagai nama beken belaka. Semoga***
Penulis adalah Anggota Forum Penulis NTT
Penulis adalah Anggota Forum Penulis NTT

0 Comments