Subscribe Us

header ads

OPINI: Mencari Sosok Ki Hajar Dewantara NTT

Oleh: Refael Molina*)

Bapak Pendidikan Indonesia , Ki Hajar Dewantara
HARI Pedidikan Nasional (Hardiknas) selalu identik dengan sosok Raden Mas Suwardi Soerjoningrat atau yang lebih dikenal Ki Hajar Dewantara. Ini menyusul kegigihannya dalam upayanya “memanusiakan manusia” di zamannya. Gelar Bapak Pendidikan Nasional pun disematkan padanya. Konon, usai menamatkan pendidikan dasarnya, beliau belajar di Stovia (Sekolah Dokter Bumi Putera). 

Lantaran sakit, ia pun tak menamatkan studinya di Stovia. Tak berhenti di situ, di tengah-tengah perjuangan membebaskan bangsa ini dari kolonialisme, ia menjadi jurnalis di beberapa media massa (cetak) kala itu yakni De Ekspress, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.  Tulisannya yang terkenal yaitu “Seandainya Aku Orang Belanda” (Alks Ik een Nederlander). Tulisan tersebut dikenal sangat tajam mengkritisi dan menyindir Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dan Prancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat Indonesia.

 Semangat dalam dunia pendidikan pasca-diasingkan ke Belanda bersama rekannya, Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesomo, dalam mendidik anak bangsa pun semakin bergelora. Pada 13 Juli 1922, ia membangun Perguruan Taman Siswa untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Seruan moral dan kerja kerasnya dalam bidang pendidikan dikenal dengan terminologi, ingarsa sang tulodo (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat) dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) pun tetap dikenang hingga kini. Luar biasa! Pertanyaannya, sudahkah para pendidik kita (di NTT) meneladani Ki Hajar Dewantara?



Menjadi Teladan 

Pesan paling mendasar dari Ki Hajar Dewantara yang harus dilakukan guru masa kini adalah menjadi teladan (bagi siswa). Mengapa? Karena semua pendidik (guru) bisa saja menjadi pendorong, dan penyemangat, namun sulit menjadi teladan. Menjadi teladan tak hanya sebatas memberi kata-kata dan nasihat belaka tetapi lebih dari itu, memberi contoh dalam wujud aksi nyata. Rupanya adagium less talk, do more, no action, talk only pun sejalan dengan semangat ini. Pesannya satu, tetap menjadi teladan melalui kerja-kerja nyata, bukan bicara banyak, minim aksi. 

Oleh karenanya, kerja nyata dalam wujud pengabdian (menjadi) guru dalam mencerdaskan anak-anak bangsa sangat diperlukan. 
Pada tataran ini, hemat penulis, akan sejalan dengan semangat revolusi mental yang disuarakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam bidang pendidikan yakni upaya membumikan pendidikan karakter sebenarnya telah digaungkan oleh Bapak Pendidikan kita. Kini, pendidikan karakter pun kembali ditekankan dalam proses pendidikan untuk menghasilkan didikan yang berkarakter.
 Alasan Pendidikan Karakter Upaya membumikan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan sekarang (Kurikulum 2013) sangat diharapkan. Ini menyusul, adanya perilaku pelajar yang kontra-nilai-nilai pendidikan karakter. Sebut saja, rendahnya budaya disiplin dan tertib belajar di sekolah maupun di rumah, meningkatnya jumlah siswa yang bolos dan absen saat jam pelajaran, meningkatnya komunitas geng motor yang ugal-ugalan di jalan-jalan protokol, adanya budaya menyontek hingga plagiarisme (plagiat). 

Samani Muchlas dan Hariyanto dalam buku Konsep dan Model Pendidikan Karakter (2012:2) pmengemukakan, “makin meningkatnya tawuran antar- pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya terutama di kota-kota besar, pemerasan, kekerasan (bullying), kecenderungan dominasi senior terhadap yunior dan berbagai fenomena buruknya karakter pelajar kita”.

Pada tataran ini, pendidikan karakter perlu diperkuat di setiap tingkatan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Pertanyaannya adalah siapa yang paling berperan dalam memperkuat serta ‘membumikan’ nilai-nilai pendidikan karakter?

Peran Guru 

Upaya ‘membumikan’ nilai-nilai pendidikan karakter memang membutuhkan peran dan tanggung jawab semua stakeholders, mulai dari pemerintah, orangtua murid/pelajar, pemerhati pendidikan, tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Namun, tidak berlebihan jika peran guru perlu lebih diutamakan.

 Mengingat, guru sebagai teladan bagi siswa, sehingga sosok guru begitu penting dalam mengejahwantahkan nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam proses belajar mengajar (teaching and learning process) untuk menghasilkan peserta didik yang berkarakter. Dalam pada itu, upaya membumikan pendidikan karakter melalui ranah afektif dan psikomotor pun sangat diharapkan, karena harus diakui selama ini banyak kalangan menilai ranah afektif dan psikomotor seakan ‘mati suri’ ketimbang ranah kognitif.
 Betapa tidak, para guru begitu bangga ketika anak didiknya mampu menghafal banyak catatan, materi serta konsep-konsep pelajaran yang diajarkan serta menyimpannya dalam otak mereka, ketimbang berinovasi, mempraktikkan dan melakukan konsep atau teori yang telah disimpan dalam otak. 


Tentu, dengan semangat Hardiknas, sudah saatnya materi serta konsep-konsep tersebut diimplementasikan dalam keseharian peserta didik, baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sehingga ketiga domain tersebut dapat berjalan ‘seimbang’ dan ‘seiring’. Pada tataran ini, guru tak hanya memainkan kompetensi pedagogiknya, namun harus mampu memainkan kompetensi sosialnya untuk melihat dan menilai peserta didiknya serta untuk mengetahui perilaku dan tindak-tanduk pelajar, baik di lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. 
Selain itu, guru pun harus menunjukkan sikap dan teladan yang baik bagi peserta didik dengan kompetensi kepribadian (personal competence) yang dimiliki. Bila hal ini mampu dilakukan oleh para pendidik kita, maka semangat membumikan pendidikan karakter yang telah dilakukan Ki Hajar Dewantara akan terwujud di Bumi Pertiwi, khususnya di Bumi Nusa Cendana. Dengan begitu, kita pun akan menemukan sosok Ki Hajar Dewantara masa kini di NTT. Merdeka!
Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Umum Victory News, 4 Mei 2015 

Post a Comment

0 Comments