Guna mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik dan berkualitas, maka banyak orang kini lebih memilih kuliah di luar daerah. Di samping memiliki kebiasaan baik, sebut saja, rajin belajar. Namun di balik itu, ternyata mahasiswa perantau pun memiliki kebiasaan buruk. Kali ini saya sedikit mengulas kebiasaan buruk mahasiswa rantau, terutama yang ada di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lalu, apa saja kebiasaan buruk mahasiswa perantau?
Pertama, doyan kopi dan rokok. Selain ingin terlihat gaul, kebiasaan mengonsumsi kopi dan dan rokok ini malah diakukan mahasiswa rantu agar tidak cepat kantuk pada malam hari. Kedua, suka begadang. Ada beberapa mahasiswa rantau yang lebih memilih begadang di malam hari ketimbang menjaga kesehatannya untuk tidur malam. Ternyata, bukan karena mengerjakan tugas, tetapi dengan merokok sambil minum kopi, plus didukung paketan data internet yang banyak, mereka kemudian berselancar di dunia maya (dumay) setiap hari. Tak hanya bersosialisasi di dumay untuk mendapatkan teman baru, lewat facebook, istagram, whatsap dan lainnya. Namun, mereka juga biasanya ingin mencari gebetan baru.
Ilustrasi
Ketiga, suka ngerumpi. Alih-alih ingin bergaul dan sosialisasi diri dengan orang lain di tengah masyarakat. Eh, malah ada sebagian mahasiswa doyan ngerumpi. Bukannya pandai bergaul dan membedakan mana yang baik dan buruk, malah ada dari antara mereka yang suka membahas privasi dan kekurangan teman saat ngerumpi. Keempat, suka berseliweran. Alih-alih ingin berwisata alias ngetrip dan nge-adventure untuk mengetahui Kota Kupang, malah mereka doyan berseliweran kesana-kemari dengan tujuan yang tak jelas. Mereka seolah ingin mengetahui perkembangan dan gaya hidup masyarakat di Kota Kupang dengan maksud ingin menceritakan kepada teman-temannya di kampung. Akibatnya, ada sebagian dari mereka yang mengeluh lantaran isi dompet semakin menipis.
Kelima, tak pernah absen tiap kali pesta. Jika pergi ke pesta karena diundang adalah wajar dan sah-sah saja. Namun, pergi ke pesta tanpa undangan ibarat penumpang gelap. Meski pesta tak setiap hari diadakan, namun bila terdapat pesta di sekitar mahasiswa rantau tinggal, maka mereka tak pernah absen ke pesta. Tak sedikit mahasiswa yang memanfaatkan momen ini untuk mengurangi jatah makan malam di kos atau asrama. Akhirnya, suasana pesta yang sebenarnya tidak terlalu banyak, menjadi banyak orang lantaran ada tamu illegal, yang didominasi mahasiswa perantau. Ironisnya, jika ada pesta wisuda, maka mahasiswa juga tak jarang buat kegaduhan dan konflik. Seperti yang dilansir http://obornusantara.com (09/10/2016), menyebut, kasus tawuran di pesta wisuda yang melibatkan mahasiswa perantau, akibatnya polisi amankan 9 pemuda.
Keenam, suka mengganggu mahasiswi atau para gadis. Alih-alih ingin berkenalan dengan para gadis atau berpacaran. Eh, mahasiswa rantau malah sulit melakukan pendekatan (pedekate) yang baik. Mereka justru menjadi orang yang suka mengganggu mahasiswa, sebatas iseng atau untuk ‘buat ramai’. Ketujuh, makan tak teratur. Sebenarnya, kiriman uang dari orangtua untuk mahasiswa rantau cukup untuk kebutuhan makan-minum. Namun, para mahasiswa justru tidak makan secara teratur lantaran makan masak tak teratur. Mereka malah lebih mementingkan paket data, rokok atau kopi bareng teman atau traktir gebetan baru.
Ilustrasi
Kedelapan, jarang jajan. Bukannya jarang jajan di kampus atau di luar karena tak punya uang atau ingin berhemat. Namun, mereka jarang jajan lantaran uang jajan sudah habis untuk rokok,kopi, paket data internet dan ngerumpi. Kesembilan, jarang olahraga. Akibat biasa ngerumpi dan seliweran, maka waktu untuk berolahraga bagi para mahasiswa rantau menjadi berkurang. Meski begitu, ada juga mahasiswa rantau yang bisa membagi waktu untuk berolahraga. Kesepuluh, merasa paling hebat. Kalau saat ngerumpi, biasanya ada yang bicara paling banyak, tapi sebenarnya apa yang dibicarakan tanpa arah dan tujuan. Itu dilakukan hanya untuk menunjukan kepada orang lain bahwa dia adalah mahasiswa yang hebat. Padahal, itu semua ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Dari beberapa kebiasaan buruk yang diulas diatas, tidak semua mahasiswa perantau memiliki kebiasaan ini. Jadi, bagi yang tak memiliki kebiasaan ini, maka anda jangan tersinggung ya, apalagi marah. Dan, bagi mahasiswa perantau yang memiliki kebiasaan ini agar segera dikurangi bahkan dihilangkan supaya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Hehehe. Salam hormat!


0 Comments